Selanjutna part 1 bercerita tentang waktu yang berlalu, di mana tuk kesekian kali, mesti mengingatnya, padahal sudah beranjak mendekati 1 tahun setelah kepergiaannya.
Sebenarnya bukan harus menangisi ataupun menentang takdir-Nya. Namun, jika tiap kali bertandang di pemakaman itu, q seperti tak lagi bernapas panjang, karena sejauh ini, ketika hidup, q belum bisa bersujud dan menyentuh telapak kakinya, yang begitu indah sebagai bagian dari surga yang dimiliki.
Memang telah menyadari, sejauh perantauan tiap kali mencoba menghibur dan mendoakannya. Agar tetap tersenyum, bahwa anakmu baik-baik saja, begitu pula sebaliknya. Rasa kangen yang terluapkan, jika kepulangan kelak akan merawat dan menjaga selamanya.
Setelah ada kabar itu, beranjak berlari tuk keberangkatan pesawat pulang. Hanya terpikirkan q ingin segera menjumpainya yang kini terlelah dalam sakitmu. Raut yang terlelah, berusaha mencoba tersenyum, tuk buah hatinya. Sayu dan berusaha bangkit tuk memeluk dan mencium anaknya yang lama ditinggal.
Hingga kepulangan q, tak hentinya berusaha membuatnya tegar, agar kelak dapat kembali tersenyum. Seperti senyum sebelum q beranjak meninggalkannya beberapa waktu kemarin. Namun kelelahan yang panjang, dalam terbaring pun tak henti-hentinya ia berucap sholawat, menghaturkan kalimat-kalimat takwa. Itulah yang membuat q bangga. Tak henti-hentinya pula, ia meminta dibimbing sholat, walaupun ketika selesai, ia sempat menegur, sebentar anak q, tahlil dulu, tasbih, baru tahmid.
Terhenyak dan takjub, ketika malam itu, ia sempat bertanya, bagaimana adik. Sempat q jawab, adik sudah pulang, pesawat baru saja mendarat di Jogja, tinggal dijemput di Solo balapan, karena sudah malam, ia naik Pramex. Nanti juga langsung menemui Ibu.
Ya sudah, kata-katanya kembali terdiam dalam tidurnya. Dua hari, dalam lelahnya, ia seringkali bertanya tentang suatu hal, yang kadang q sendiri tak memahami, q hanya berpikir, mungkin Ibu kelelahan selama tak ada yang menegurnya, untuk istirahat. Karena ketika kami berdua diperantauan, hanya mendengar dari beberapa kerabat, ibu tak pernah istirahat.
Hingga malam, kelelahan Ibu sedikit sembuh dan meminta dibantu untuk duduk. Sebentar dan kemudian minta dibaringkan lagi. Tak ada kata setelah itu, dan tertidur. Sampai beranjak malam, setelah sholat malam, dari fajar menjelang subuh, dalam rangkulan kerabat, Ibu benar-benar telah tiada. Tak ada kata terakhir yang sempat dikatakan, Namun dalam benak, q tahu Ibu hanya meminta untuk selalu menjaga semuanya. Tak ada yang mampu berkata-kata, selain q menghaturkan selamat jalan dalam rindu q yang sebentar, dalam doa untuk keridhoan-Nya.
Tak ada yang bisa diberikan selain terima kasih telah memberi waktu dan tempat terindah dalam buaianmu, dari sejak melihat dunia hingga menantang dunia ini, memang tidak sempat kenang-kenangan dari perantauan ini terberikan. Namun segala senyummu telah mampu memberi semangat tuk tetap sabar dan kuat menjalani hidup ini, walau tanpamu sekarang. Tak ada to be continued, kecuali thanks for my mam, kami bangga menjadi buah hatimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar